Lala terbelalak, mendekatkan wajahnya pada Lynx dengan tatapan tak percaya. Bisikannya terdengar tajam meski ditahan, “Apa kau bodoh? Tidak mempelajari sejarah dunia ini? Benua Beihan? Itu musuh bebuyutan Benua Tianzhou!"

Namun, dalam keterkejutannya, Lala tanpa sadar mengucapkan nama Benua Tianzhou dengan nada terlalu keras. Wajah penduduk desa yang semula hanya tegang kini membeku dalam ketakutan. Mata-mata penuh kewaspadaan beralih kepada mereka, kecemasan terlukis jelas di setiap wajah.

Ketegangan menggantung berat di udara, hingga suara langkah berderap memecah keheningan. Serombongan penduduk desa muncul dalam keadaan mengenaskan—tubuh penuh luka, pakaian compang-camping, beberapa bahkan berlumuran darah segar yang menetes di atas salju putih.

Di depan rombongan itu, seorang pria muda jatuh berlutut, wajahnya pucat dan penuh kepedihan. Suaranya bergetar saat berbicara, “Kami kalah! Naga Salju itu tak bisa dikalahkan! Semua penduduk desa yang ikut berusaha menjebaknya telah tewas! Kultivator yang kami undang mati dimangsa naga itu. Kami tak berdaya melawannya!"

Desahan putus asa mengalir dari kerumunan penduduk. Ketakutan dan keputusasaan mencekik udara, membuat suasana semakin mencekam.

Lynx maju selangkah, pandangannya tegas namun penuh ketenangan. “Naga Salju? Ceritakan lebih banyak kepada kami. Mungkin kami bisa membantu.”

Tatapan curiga segera menghujani Lynx dan kedua rekannya. Pria tua dengan jubah lusuh yang berdiri paling depan menggelengkan kepala dengan getir. "Orang asing dari Tianzhou? Kami tak bisa begitu saja percaya pada kalian. Siapa yang menjamin kalian tidak membawa bencana lebih besar?"

Lala menggeram dan maju dengan keberanian menggelegak. "Daripada kalian mati sia-sia, bukankah lebih baik mencoba meminta bantuan kami? Kami tak punya alasan untuk menyakiti kalian!" Nada suaranya tegas, memancarkan keyakinan yang membuat beberapa penduduk saling pandang ragu.

Kepala desa mengamati mereka dengan tatapan berat. Perbincangan singkat penuh bisikan cemas terjadi di antara para penduduk. Akhirnya, seorang pemuda bertubuh kekar dengan luka menganga di wajahnya maju, matanya menyala oleh tekad yang belum pudar meski tubuhnya gemetar. "Baiklah. Aku akan mengantarkan kalian."

Seorang penduduk lainnya menghampiri Kepala Desa, suaranya lirih namun penuh kekhawatiran. "Kepala desa, bukankah mereka hanya mencari mati jika pergi ke sana?"

Kepala Desa menghela napas panjang, mengusap wajahnya yang dipenuhi kerutan usia. Suaranya rendah dan penuh beban. "Jika mereka mati, itu bukan urusan kita. Desa kita akan celaka jika pihak kerajaan tahu ada penduduk Benua Tianzhou di sini. Jika mereka mati, kita aman. Jika mereka berhasil, kita juga terbebas dari naga itu."

Tatapan pria tua itu terarah pada punggung rombongan Lynx yang semakin menjauh, bayangan mereka tertelan kabut putih. Namun dalam hatinya, harapan kecil menyala—sebuah doa tanpa suara agar mereka kembali hidup-hidup dan pergi dari Benua Beihan tanpa membawa masalah lebih lanjut.

***

Beberapa waktu kemudian, rombongan tiba di sebuah lembah tertutup salju dengan tebing-tebing es yang menjulang tinggi berjarak puluhan kilometer dari desa yang mereka datangi. Lingkungan sunyi, namun hawa dingin yang menusuk tulang terasa janggal. Aura mengancam menggantung di udara.

Sebuah raungan bergema, menggetarkan salju dari pepohonan. Dari balik kabut tebal, muncul seekor naga besar dengan sisik putih kebiruan berkilauan. Tubuhnya memanjang, dengan tanduk es yang melengkung indah di kepalanya. Nafasnya menyemburkan kabut beku yang membekukan tanah dalam sekejap. Mata birunya menyala penuh amarah, menatap para pendatang yang berani mengganggu wilayahnya.

Setibanya di tempat itu, bukan sosok naga yang menarik perhatian Lynx, melainkan tempat itu adalah lokasi yang sedang di carinya.

"Ternyata pergeserannya berada sejauh ini. Pantas aku tidak bisa memanggilnya." pikir Lynx setelah memperhatikan keadaan di sekitarnya.

Lynx menoleh pada Leena dan berkata dengan nada datar, “Leena, tunjukkan kekuatanmu. Ini kesempatanmu berlatih melawan lawan yang kuat."

Leena menatap naga salju itu dengan sedikit gentar, tetapi ia menggenggam pedangnya lebih erat dan melangkah maju. Aura panas menyelimuti tubuhnya saat api merah menyala mengelilingi bilah pedangnya. “Naga Salju, hadapi aku!"

Naga Salju meraung dan menyemburkan napas es yang langsung membekukan area di depannya. Leena melompat lincah, menghindari serangan itu dan melepaskan tebasan pedang berapi yang membelah udara dengan panas menyengat. Naga Salju menggeram, sisik esnya bergetar saat menahan serangan api.

Pertempuran berlangsung sengit. Setiap kali Leena dalam bahaya, Lynx dengan tenang mengayunkan tangannya, menciptakan gelombang energi yang mengalihkan serangan naga. Leena perlahan terbiasa membaca gerakan naga, dan serangannya semakin tajam dan terarah. Namun, kekuatan naga itu terlalu kuat. Setiap kali berhasil menyerang, lapisan es tebal melindungi tubuh makhluk buas itu.

Lynx memperhatikan dengan mata tenang hingga akhirnya merasa cukup. Dengan gerakan halus, Lynx melompat di depan naga. Dengan satu tangan, ia mengangkat jari telunjuk dan mengarahkan kekuatan spiritualnya. Naga Salju menyerang, tetapi serangannya hanya menembus angin kosong. Lynx menghindar tanpa usaha berarti, sikapnya santai seolah tak terancam sama sekali.

Lynx mengamati mata naga itu dengan cermat. “Aku tidak ingin melukaimu. Sudah cukup bermain-main."

Dengan satu gerakan tangan, Lynx menciptakan formasi segel rumit di udara. Rune bercahaya muncul, membentuk lingkaran besar yang memerangkap naga itu. Naga Salju menggeram dan meronta, tapi tak mampu keluar dari segel yang kuat.

Lynx menutup matanya, menyatu dengan energi spiritual di sekelilingnya. Dengan satu langkah maju, dia mengirimkan gelombang kekuatan ke dalam tanah. Gunung di belakang naga itu bergetar, memancarkan cahaya terang. Tanah terbelah, menampakkan sebilah pedang berkilau tajam dengan aura dingin menusuk.

Naga Salju berhenti meronta, matanya penuh hormat menatap pedang yang muncul. Naga salju ini sesungguhnya adalah roh pedang yang keluar akibat seseorang kultivator pernah datang dan berusaha merebutnya. Darah kultivator yang tewas terbunuh mengotori area yang dianggap suci oleh pedang tersebut sehingga pedang tersebut marah dan mewujudkan bentuknya dalam bentuk naga salju.

Selama tidak ada penduduk yang mengganggu, roh naga tidak akan menyerang atau menyakiti. Namun penduduk yang merasa terancam dengan kehadiran naga tersebut, berusaha membunuhnya. Bahkan mereka menggunakan naga salju sebagai kambing hitam, alasan di balik terbunuhnya hewan-hewan ternak atau kejadian yang tidak bisa mereka jelaskan.

Roh naga itu bersinar dan melayang menuju pedang, menyatu dengan bilahnya. Suara raungan bergema lembut sebelum pedang tersebut berpendar dengan cahaya biru muda, kekuatan spiritualnya terasa bergetar.

Lynx mengulurkan tangan dan menggenggam gagang pedang. Pedang itu terasa dingin namun penuh kekuatan, sebuah senjata roh yang melampaui kelas biasa. Lynx menghela napas panjang, lalu mengikatkan pedang itu di pinggangnya.

Leena dan Lala memandang Lynx dengan kagum sekaligus gentar. Lala tak bisa menahan diri untuk tidak berkomentar, “Itu... itu luar biasa!"

Lynx memandangi pedang bersinar di tangannya. Cahaya biru kehancuran memancar dari bilah pedang, memancarkan aura dingin yang menggigilkan tulang. Pedang ini bukan sembarang senjata, melainkan Pedang Kehancuran milik Leluhur Xiao Tang, sebuah senjata legendaris yang disimpan untuk diwariskan kepada yang berjodoh.

Sambil menyarungkan pedang, Lynx menjelaskan kepada Leena dan Lala, “Leluhur Xiao Tang sudah tidak memerlukan pedang ini sejak mencapai ranah Immortal Tingkat Akhir. Pada level itu, dia bisa menciptakan pedang dari energi qi tanpa memerlukan senjata fisik. Pedang ini disegel di sini agar tidak jatuh ke tangan yang salah."

Lala mengangguk paham. “Jadi, ini ujian yang ditinggalkan leluhur untuk pewaris yang pantas. Lalu kenapa kamu mengambilnya?"

Leena memandang pedang itu dengan kekaguman, sementara Lynx tersenyum samar. “Aku juga penerusnya, jadi wajar senjata ini kuambil bukan?"

Lynx hanya tersenyum samar. “Ayo, Naga sudah hilang  dan pedang juga sudah kita dapatkan. Sekarang kita sudah selesai di sini dan kita bisa kembali ke kota Zhurong."

Lynx segera membuat portal teleportasi yang membawa mereka kembali ke kota Zhurong di kerajaan Qingyuan

Mereka berbalik meninggalkan lembah yang kini tenang, sementara angin es berembus lembut, membawa serpihan salju yang berputar indah di udara, meninggalkan pemuda yang sedang berdiri dengan takjub di kejauhan memandangi kepergian mereka.

